Bubble Wish

 ————————————————————————————–

Title     : Bubble Wish

Author : ayurzqi

Genre   : Sad, Life, Family

Length : Oneshoot

Rating  : G

Cast     : Ahn Sohee as Ahn Sohee
Lee Jinki as Ahn Jinki
Lee Sangwook as Ahn Sangwook (Sohee’s father)
Lee Minjung as Lee Minjung (Sohee’s mother)

ayurzqi©2014

————————————————————————————–

 

Sudah pukul 5 sore tetapi Sohee tak juga beranjak dari kursi taman tempatnya sekarang. Udara sudah mulai dingin, dan ini sangat tidak bagus untuk kesehatannya yang memang sudah buruk. Perawat Kim sudah berkali-kali memintanya masuk ke dalam, tapi siapa yang bisa menyuruhnya? Tak ada satu pun perawat di rumah sakit itu berani memaksa Sohee jika ia sedang begini.

[FLASHBACK]

2 Januari 2002

“Sohee-ah! Jangan bermain terus! Belajarlah sana!” Teriak eomma dari dapur. Sohee yang sedang bermain, tidak menggubris perintah eommanya sedikitpun. Ia masih terus bermain dengan dua boneka beruangnya.

“Sohee-ah, mari belajar bersama oppa! Kita belajar sambil bermain! Pasti akan menyenangkan, kau mau?” Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki yang menyebut dirinya ‘oppa’ itu di hadapan Sohee. Mendengar ajakan anak laki-laki itu Sohee pun langsung mengangguk keras. Eomma yang melihat kejadian itu dari dapur hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tingkah Sohee memang selalu begitu.

—–

“Oppa! Kapan kita bermain?”, Rengek Sohee.

“Kita belajar dulu, baru bermain, sekarang kerjakan ini,” kata anak laki-laki itu sambil menyodorkan buku berisi soal matematika anak SD pada Sohee. Dengan cepat Sohee menolaknya. Ia hanya ingin bermain.

“Aku tidak mau! Aku ingin bermain saja! Mengerjakan soal sangat membosankan”, keluhnya pada ‘oppa’nya itu.

“Sohee-ah, kau tidak boleh begitu. Kalau kau sering belajar kau akan jadi murid yang pandai dan bisa mendapat juara di kelas, bukankah itu sangat menarik? Lagipula belajar juga menyenangkan. Kau bisa mengetahui banyak hal nantinya,”

Oppa Sohee, yang bernama Jinki itu menjelaskan dengan pelan sekali pada adik kecilnya itu. Ia sangat menyayangi Sohee, begitupun sebaliknya. Di rumah, Sohee hanya mendengarkan kata-kata oppanya itu. Ia bahkan jarang menuruti perintah oppa dan eommanya. Hanya Jinki lah yang dapat membuat Sohee melakukan sesuatu.

“Baiklah, akan ku kerjakan,” jawab Sohee lemas, tapi tetap mengerjakan tugas yang diberikan Jinki.

—–

“Oppa! Lebih banyak lagi! Yaaaa~ ini benar-benar bagus! Aku ingin melakukannya juga!” Teriak Sohee bahagia, ia sedang bermain gelembung sabun bersama Jinki di belakang rumah.

“Ini…,” kata Jinki sambil memberi botol cairan sabun kepada Sohee. “Sohee-ah! Oppa punya rahasia tentang gelembung sabun! Apa kau ingin tahu?”

Sohee yang sedang meniup gelembung sabunnya pun menghentikan aktifitasnya sejenak sambil menoleh antusias ke arah Jinki. “Hah? Apa itu? Aku ingin tahu!” Teriaknya bersemangat.

“Jika kau meniup gelembung sabun, arahkan itu ke langit. Pikirkan sebuah permintaan sambil meniup gelembung sabun, usahakan jangan sampai pecah. Nah, nanti gelembung sabun itu akan menyampaikan pesanmu ke surga,” jelas Jinki.

“Benarkah? Kalau begitu, aku akan melakukannya sekarang!” Seru Sohee sambil meniup sebuah gelembung sabun yang berukuran cukup besar.

“Apa permintaanmu tadi?” Tanya Jinki pada Sohee. Yang ditanya hanya tersenyum malu, lalu menjawab. “Aku ingin mainan baru yang banyak!” Kata Sohee pada oppanya.

—–

“Oppa! Sepertinya apa yang oppa katakan itu benar,” teriak Sohee tiba-tiba saat memasuki kamar oppanya itu.

“Kata-kataku yang mana?” Tanya Jinki heran.

“Yang kemarin, ketika oppa bilang gelembung sabun akan menyampaikan permintaan ke surga!” Jawab Sohee antusias.

“Benarkah?” Tanya Jinki tak percaya.

“Tentu saja, appa baru saja gajian dan appa berjanji membelikanku mainan baru! Aku sangat senang!”

“Wah! Kalau begitu kau juga harus rajin belajar ya! Karena appa sudah mau membelikan mainan baru”

“Oke! Aku akan jadi anak yang rajin!”

—–

Hujan deras mengguyur daerah tempat tinggal Sohee dan Jinki. Malam itu, mereka hanya tinggal berdua di rumah. Appa dan eomma sedang pergi untuk sebuah acara, pulang dari acara itu appa berjanji membelikan mainan untuk Sohee. Sohee pun menunggu ayahnya dengan hati yang senang. Sambil menunggu orang tua mereka datang Sohee dan Jinki menonton televisi di ruang tengah. Jinki menyetel channel berita, sebenarnya Sohee tidak suka, tapi karena ia sedang tidak ingin menonton televisi, ia pun membiarkan Jinki menonton acara kesukaannya itu.

Berita kali itu menayangkan sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi, sebuah truk besar menabrak mobil sedan, sehingga membuat mobil sedan itu hancur berantakan. Truk besar yang menabrak itu melarikan diri dan sedang dalam kejaran polisi setempat. Dua orang penumpang mobil sedan itu meninggal di perjalanan ke rumah sakit. Identitas korban sudah diketahui dari kartu tanda pengenal yang ada di tas korban.

Sohee sebenarnya tidak suka acara berita, namun entah apa yang membuatnya menoleh ke arah televisi yang sedang menayangkan berita itu. Sohee terkejut melihat mobil korban yang sangat mirip dengan mobil ayahnya.

“Oppa, bukankah itu mobil ayah?” Tanya Sohee pelan. Jinki hanya terdiam, sejak awal berita ini, ia sudah mengira itu mobil ayahnya. Dan melihat itu Jinki hanya bisa diam. Dan diam. Sohee mulai terisak. Ia ketakutan. Dan sangat khawatir dengan keadaan orang tua nya sekarang.

“Oppa, bisa kau jawab aku? Itu bukan mobil ayah kan? Itu pasti bukan. Itu hanya mirip saja. Aku benar kan?” Isakan Sohee makin membesar begitu nama korban tertera di layar televisi.

[Ahn Sang Wook – Lee Min Jung]

“Oppa, ini semua karenaku. Andai saja aku tidak meminta mainan pada eomma dan appa,” kata Sohee sambil terisak. “Ini semua salahku, oppa,” Jinki masih terdiam, ia tidak tahu harus apa. Malam itu ia kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi.

—–

Di pemakaman-

Sohee terus menangis memanggil eomma dan appanya. Ia tidak ingin mainan lagi, ia hanya ingin eomma dan appanya kembali. Ia berjanji akan belajar dengan baik, dan menjadi putri appa yang manis. Ia akan melakukan semua yang eomma suruh, ia akan rajin membantu eomma. Ia benar-benar berjanji.

—–

5 Mei 2004

Sohee dan Jinki bukan lagi dua saudara yang akrab. Mereka menjalani kehidupan mereka masing masing setelah pemakaman kedua orang tua mereka. Memang, mereka masih tinggal bersama di rumah bibi mereka, namun, tidak ada percakapan diantara keduanya. Mereka terus mengurung diri dalam kamar dan hanya bicara seperlunya. Bibi Ahn sangat sedih melihat keadaan kedua keponakannya itu.

—–

24 April 2007

Sohee menderita penyakit lemah jantung sejak kecil, sampai ia berumur 15 tahun kehidupannya masih normal saja. Tapi beberapa hari terakhir Sohee mengeluh tentang penyakitnya itu pada bibinya. Jinki tampak tidak peduli dengan keadaan Sohee. Atas saran dari dokter, Sohee pun akhirnya tinggal di rumah sakit. Penyakitnya sudah cukup parah, dan akan lebih baik jika ia menginap di rumah sakit. Sejak saat itulah Sohee menjadi pasien tetap di rumah sakit. Ia tidak bisa pergi sampai ada orang yang ingin mendonorkan jantung kepadanya.

Hari-hari Sohee makin suram. Ia tidak pernah berbicara pada siapapun kecuali pada perawat Kim. Perawat yang membantunya dalam segala hal.

—–

[FLASHBACK END]

26 Desember 2013

Beberapa hari yang lalu, bibi memberitahu Sohee bahwa akan ada donor jantung baginya, Sohee senang akan hal itu, hanya ia tidak bisa menunjukkannya. Ia sudah tidak terbiasa untuk tersenyum atau tertawa. Operasi jantung akan dilakukan besok. Sebenarnya Sohee sangat penasaran siapa orang yang mendonorkan jantung padanya. Tapi kata bibi, hal itu dirahasiakan oleh dokter.

—–

Jinki duduk di sebuah restoran. Di hadapannya, bibi Ahn menampakkan wajah cemas.

“Kau sudah yakin?” Tanya bibi Ahn pada Jinki.

“Sudah, semuanya sudah ku pikirkan. Aku hanya ingin melihat Sohee bahagia. Sohee sudah cukup menderita dengan semua keadaan ini. Termasuk saat aku tidak mengajaknya berbicara sampai sekarang.

Biarkan aku melakukan sesuatu untuk membuat Sohee merasa lebih baik, bibi.”

“Baiklah jika itu maumu,” dan bibi Ahn pun sudah tidak dapat menahan tangisnya. Ia pasti akan sangat merindukan keponakan yang ada di hadapannya saat ini. Jinki bangkit dari kursinya mendekati bibi Ahn. Lalu memeluknya.

“Aku tidak akan pergi jauh, aku akan tetap di sini, bibi,” kata Jinki sambil tersenyum pada bibi Ahn. Membuat wanita tua itu dengan terpaksa membalas senyum keponakannya.

—–

27 Desember 2013

Hari itu akhirnya datang juga. Sohee yang akan menjalani operasi terlihat gugup. Ia berusaha menenangkan dirinya. Bibi Ahn datang menemaninya sebelum operasi dimulai.

“Tenangkan dirimu, semuanya akan baik-baik saja,” kata bibi Ahn. Sohee hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

—–

Operasi berjalan lancar. Sohee masih belum sadar dari pengaruh obat biusnya.

—–

Sohee membuka matanya pelan, ia mendapati dirinya sudah ada di ruang rawat inap biasa. Pandangan Sohee terhenti ketika melihat sebuah kotak kado yang diletakkan di samping tempat tidurnya. Ia mengambil kotak kado itu lalu membukanya.

Ada sebuah benda dan surat di dalam kotak kado itu. Ia membaca pelan surat itu, kemudian isak tangis mulai terdengar. Tak lama isak tangis itu mereda menjadi cegukan kecil yang tak berhenti, Sohee tidak ingin membuat kegaduhan. Ia tak mau menangis walau sebenarnya ingin. Semua ini terasa tidak adil untuknya.

—–

Sohee berjalan pelan menuju taman. Ia baru saja menjalani operasi jantung dua hari yang lalu. Hatinya sangat kacau sekarang. Sebuah kenyataan pahit harus ia telan lagi. Sebuah kenyataan yang tidak ingin ia terima sama sekali.

Sohee duduk di bangku di tengah taman. Ia hanya diam membisu. Satu jam, dua jam, tiga jam. Ia duduk di sana. Tak ada yang bisa mengganggunya. Ia tetap diam. Tak menggubris kata-kata perawat Kim yang menyuruhnya masuk karena hari sudah sore dan cuaca sudah cukup dingin. Ia hanya terus diam. Memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya.

Sohee mendengus pelan. Ia merenung sejenak, lalu mengambil sesuatu dari sakunya. Botol cairan sabun. Ia membukanya lalu mulai bermain gelembung sabun. Lalu terdiam sejenak, menarik napas dan meniup sebuah gelembung sabun yang lumayan besar. Didalam gelembung sabun itu ia mengucapkan sebuah permintaan.

“Tuhan, tolong jaga appa, eomma dan oppaku ya. Biarkan mereka bahagia di sisimu. Jika sudah saatnya, aku akan menyusul mereka nanti. Tapi biarkan juga aku bahagia di sini walau hanya sebentar. Dengan jantung ini.”

Sohee mengelus dadanya pelan. Lalu menoleh ke arah perawat Kim yang sedari tadi menunggunya di pinggir taman. Kemudian ia berjalan pelan ke arah perawat Kim sambil tersenyum tipis. Senyum pertama yang dilihat oleh perawat Kim setelah 5 tahun bersama Sohee di rumah sakit ini.

Sekarang appa, eomma dan Jinki bisa tenang meninggalkan Sohee sendirian.

————————————————————————————–

Surat untuk Sohee

 

 

uh finally, i finish my 1st fanfiction, pfffttt.
setelah membuat gantung trailer yang ngga ada kelanjutannya *lirik ff timeless
hahah akhirnya gue bikin sebuah ff, tadaaahhh *gedungjrenggg~
karna ini ff pertama, aku berharap kesannya bagus *ceileh *berasa lagi pidato
okedah, makasih yg udah mau baca, komen kalian sangat berharga❤
ngga mau komen juga gapapa^^
udah ada yg mau baca aja udah syukur heheh
okedah, thanks for y’all
love you muah muaahhh :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s