A Thousand Years (Part 1)

faul

 

Author: Faul

 

Cast : Kwon Ji Yong

Jung Hye Bin

Sungha Jung

 

Genre: tentuin sendiri ..

 

Prolog

 

Kenyataan pahit adalah ketika seseorang tidak bisa menerima apa yg harusnya tidak terjadi.

 

 

Oppa, aku.. pregnant!” Ucap ku lemah. Kedua matanya langsung terbuka lebar menatap mata ku tajam.

Mwo? Pregnant?” Dia langsung membuang wajah nya tak ingin menatap ku.

“Tapi.. Tapi aku sungguh belum pernah melakukannya oppa..” Elak ku sedikit membela diriku, ia menoleh kan wajah nya ke arah ku namun dengan tatapan jijik melihat ku bagaikan aku adalah mahluk terkotor di dunia ini yg melakukan nya dengan sengaja. Tapi seingat ku aku tak pernah melakukan apa pun.

 

Namja?

Namja hanya Kwon Ji Yong yg ku kenal dan hanya dia lah yg dekat dengan ku dan sering kerumahku. Karena dia lah kekasih ku. Setahu ku,  Aku belum pernah melakukan hubungan ‘intim’ dengannya dan tidak dengan siapa pun.

 

Pregnant?

Aku bahkan tidak mengerti mengapa aku bisa pregnant. Seperti ku bilang, aku tidak pernah berhubungan intim pada siapa pun. Hanya saja sebelum aku tidur aku mencium boneka shaun the sheep ku dulu baru aku tidur. Masa boneka ku yg menghamiliku? Masuk akal? Tidak kurasa.

 

Kiss?

Aku hanya kissing dengan Kwon Ji Yong oppa sebanyak 2 kali dan sisanya pada boneka shaun the sheep ku ketika mau tidur. Jadi tidak mungkin.

 

Testpack?

Apa perlu aku mentestpack ulang? Karena ini benar-benar tidak masuk akal kurasa sungguh tidak masuk akal.

 

“Gugurkan..” Sahut Ji Yong dingin,

Mwo? Gugurkan? Bahkan aku tidak tahu siapa bayi ini dan kau.. Oh Kwon Ji Yong, dimana otak mu? Mengapa kau menjadi ..” Ji Yong memotong pembicaraan ku, “Lalu kau mau apa? Membesarkannya sendirian? Apa kau gila? Apa kata orang-orang ketika melihat mu hamil tanpa suami dan juga bukan pacar mu yg melakukannya? Hah?” Ia meninggi kan suaranya membuat nyali ku menjadi ciut.

 

“Tapi.. Tapi oppaa..” “Tidak ada tapi-tapi, kau bilang cinta padaku selamanya kan? Cepat gugurkan sekarang juga atau kalau tidak kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Dia beranjak dari duduk nya dan pergi keluar apartement ku. Aku menatap kepergiannya bagaikan anak kucing yg tidak diberi susu rasanya sangat menyakitkan.

 

BLAM~ ia menutup keras pintu nya hingga membuat ku terkaget. Tak lama kemudian, air mata ku terjatuh dan disusul dengan suara jeritan dari mulutku.

 

Aigoo, cobaan ini terlalu berat. Apa yg telah Kau lakukan padaku? Bahkan kebahagian ku belum berjalan selamanya.”

 

Aku mencoba merebahkan diriku di sofa namun aku merasa perutku terkoyah membuat ku berlari ke washtafel.

 

“Huweeeekkk~ huweeek~..” Setelah pembuangan keempat, aku menyeka keringat juga membersihkan mulut dan wajah ku.

 

Aku terduduk di dekat washtafel meratapi nasib buruk ku ini ah tidak, bahkan sangat buruk. Aku tidak tahu apa yg terjadi, dan mengapa aku bisa hamil.

 

Oppa..” Aku memanggil nya dalam tangisku. Dengan sekuat tenaga aku bangkit dan mencari ponsel ku.

 

Aku mencari nama Ji Sun eonni di phonebook ku setelah ketemu, aku menelponnya.

 

Eonni..”

“Ada apa, Jung-ah?” Tanya nya diseberang sana.

Eonni… Tolong akuu tolong..”

“Ada apa? Bicara yg benar, sayang. Aku tidak mengerti yg kamu katakan.”

Aku sedikit berdeham,

Eonn, bisakah eonn ke apartement ku, jebal?”

“Ne, 15 menit lagi aku sampai disana.”

 

~.~.~.~

15 menit kemudian..

 

Aku terus melirik jam dinding ku, tangan ku terus meremas bantal disofa. Keringat terus mengucuri di pelipis mataku.

 

Ting toooong..

 

Aku segera bangkit dari duduk ku dan berlari kecil menuju arah pintu. Habis itu, aku membuka pintu dan disana Ji Sun 98]lgfq sudah datang sendirian tidak bersama Seungri oppa ataupun Ji Yoon. Sesegera aku memeluk nya.

Eonni.” Rintih ku, kepala ku pindah di bahunya.

“Ada apaa?” Ia bertanya sambil memegang kepala ku dibahunya.

Aku mendongakkan kepala ku dan mengisyaratkan tuk duduk.

 

Eonni, aku.. Aku takut.. Ji Yong oppa meninggalkan ku. Yeah, dia pasti akan meninggalkan ku karena karena kesalah pahaman yg membuat ku seperti ini…” Ji Sun eonni tidak mengerti apa yg ku bicarakan hingga ia memotong pembicaraan ku.

“Jadi, intinya kau kenapa?”

“Aku.. Aku hamil, eonn.” Ji Sun eonni menutup mulutnya, terlihat matanya tidak percaya hingga mengeluarkan air matanya.

“Ha.. Hamil? Tapi dengan siapa?”

“Aku tidak tahu eonn, pasti eonn akan jijik kan pada diriku ini. Aku sudah kotor eonn, aku nappeun yeoja.” Lirih ku, Ji Sun eonni menenangkan ku di pelukannya.

“Aku harus membesarkan bayi ku ini sendirian, eonn. Mengapa Tuhan begitu jahat?”

Ji Sun eonni berdiam sejenak,

 

“Sabar, aku akan siap membantu mu merawat kandunganmu. Masalah dengan Ji Yong.. Biar aku yg mengurusnya.” Hati ku sedikit lega mendengar pertolongan Ji Sun eonni.

“Dan, tolong maafkan Ji Yong ya dia memang seperti itu.” Lanjut nya.

Aku mencoba tersenyum walaupun terlihat masam.

Ne, eonni! Gomawoyo.. Hatiku sekarang benar-benar sudah lega.” Aku melepaskan pelukan ku dan menghapus air mataku.

 

“Jadi, apa yg pertama kita lakukan?” Tanya ku

“Kita belanja tuk kebutuhan mu. Kajjaaa~”

Hatiku sedikit terhibur dengan rencana pertama ini. Kami pergi ke supermarket tuk kebutuhan ku. Ia menarikku ke rak susu khusus ibu hamil, ke rak sayur-sayuran segar, ke rak ikan tapi aku hanya menjauh karena tiba-tiba perutku sedikit memberontak.

 

“Amis ya? Itu wajar saja kok. Memang kalau sedang hamil penciuman nya itu sensitif jadi jangan pernah kaget ya hehe.” Ucap nya, aku tertawa renyah sedikit aku bisa melupakan nasib bodoh ku ini.

 

Sementara Ji Sun eonni ke rak ikan, aku mencari makanan cepat saji agar aku tidak usah repot-repot memasaknya. Setelah sampai di rak makanan cepat saji, aku berjinjit karena makanan yg aku mau terletak sangat tinggi sekali.

Tiba-tiba ada orang bertubuh tegap lebih tinggi dariku membantu ku mengambil nya dan memberikan padaku.

 

“Butuh ini?” Tanya nya

“Ya, gamsahamnida..” Ucap ku, ia hanya tersenyum.

“Kau sedang hamil?” Omo! Bagaimana ia bisa tahu?

“Ah ne, kok kamu bisa tahu?” Tanya ku sedikit salah tingkah

“Aku melihat dari makanan yg kau inginkan. Kan itu makanan cepat saji untuk ibu hamil.” Ucap nya santai, aku hanya mengangguk.

“Oh iya sekali lagi terima kasih ya.” Aku membungkukkan tubuh ku lalu pamit darinya.

 

Aku menghampiri meja kasir, disana Ji Sun eonni sudah menunggu ku.

Ia membayar semua kebutuhan ku dan tak lupa juga aku mengucapkan terima kasih padanya.

 

Setelah mengantar ku pulang, Ji Sun eonni izin pamit tuk pulang karena Ji Yoon menangis dan Seungri oppa tidak bisa mengatasinya.

Tanpa membereskan barang2 belanjaan di meja dapur, aku siap-siap tuk tidur tapi sebelumnya, aku mengechek ponsel ku namun nihil tidak ada telpon ataupun sms dan aku menarik nafasku lalu mengetik sms yg akan ku kirim ke Ji Yong oppa.

 

Oppa..’

 

Beberapa menit kemudian, ponsel ku bergetar. Dengan cepat aku mengambil nya dan membuka sebuah sms tapi hanya tertulis bahwa sms ku tidak terkirim. Lalu, aku berbaring namun mataku tidak terpejam. Aku terlalu memikirkan namja itu dan mungkin aku tidak bisa hidup tanpanya. Kenyataan yg sangat bodoh bukan?

^.^.^

 

Cahaya matahari pagi mulai memasuki ruang tidur ku. Ia melewati celah-celah di jendelaku hingga aku terbangun karena silauan cahaya itu.

Aku beranjak dari tidurku lalu berjalan menuju dapur.

 

“Hueeeeek.” Aku menutup mulutku dan berlari ke washtafel. Morning sickness ini memang menyusahkan. Setelah membersihkan mulutku, aku berjalan lagi ke dapur.

 

Aku membereskan barang-barang belanjaan ku hingga tertata rapi. Pagi ini aku tidak ingin sarapan entah sejak kapan, aku ingin jogging di taman. Akhirnya, mengganti pakaian dan bersiap-siap tuk jogging.

 

~.~.~

@ park

 

Aku sudah berlari kecil dari apartement ku menuju taman ini walaupun tidak jauh, aku sudah mengeluarkan banyak keringat. Dan kali ini, aku ingin duduk. Aku mencari tempat duduk kosong, namun jarang sekali ada yg kosong mengingat hari ini hari weekend tetapi aku melihat bangku yg kosong, aku segera menuju kesana.

 

Aku duduk dibangku itu sambil menghapus keringat di pelipis ku yg telah bercucuran.

 

“Ini untuk mu.” Aku melihat sebotol air mineral sejajar dengan wajah ku. Langsung saja aku melihat siapa yg memberi ku minuman itu. Ternyata..

“Kau?” Dia mengangguk dan tersenyum. Penampilannya kali ini berbeda, ia menggendong gitar nya yg ditutupi oleh sarung gitar. Aku mengambil minuman itu.

“Terima kasih.” Ucap ku dan jujur saja aku masih terheran-heran dengannya. Mungkin semalam kebetulan tapi apa pagi ini juga kebetulan bertemu dengannya? Tidak mungkin.

“Kau terus menatapku heran, ada apa?” Tanya nya yg membuyarkan pikiranku.

“Tidak ada, aku hanya heran denganmu..”

“Heran kenapa?” Potongnya

“Kau.. Apa kau ada dimana-mana?” Tanya ku asal

“Tidak.”

“Oh.”

“Tidak, karena rumah ku di daerah sini jadi aku sering berkeliaran disini.” Apa ia bilang? Rumah nya di daerah sini?

“Ah.. Apartement ku juga di daerah ini, kapan-kapan main ke apartement ku, ya?” Ajak ku, dia hanya tersenyum. Ketika ia tersenyum entah mengapa aku merasakan hawa yg berbeda. Senyum nya begitu ramah dan juga suara lembutnya.

“Boleh saja, tinggal kau sebutkan dimana apartement mu, lantai berapa dan nomer berapa? Hehe.” Ia tertawa, aku pun ikut tertawa.

“Kau bisa bermain gitar?” Tanya ku

“Tentu saja, aku bisa.” Jawabnya dan aku hanya meng’oh’kan saja.

 

Tiba-tiba ia merogoh saku nya dan ia mengeluarkan ponselnya. Ia mengisyaratkan sebentar tuk menjawab telepon, mungkin telepon dari pacarnya. Ah iya pacar? Dia sudah punya pacar belum ya? Aku mengetuk kepala ku sendiri, betapa bodohnya aku jika harus memikirkan hal seperti itu padahal aku sedang hamil.

 

Mian, aku harus pergi ada urusan mendadak. Besok kita bertemu lagi ya, disini.. Besok pagi. Ddaah..” Setelah pamit, ia melambaikan tangan lalu berbalik pergi.

 

Angin musim gugur berhembus ke arah ia pergi. Aku merasakan dingin hingga membekap tubuh ku dengan hoodie yg ku pakai.

 

Tiba-tiba perut ku berbunyi, aku merasakan calon anak ku kelaparan. Aku melihat sekelilingku mencari pedagang kaki lima yg menjual makanan. Seketika itu, sepasang mataku melihat pedagang yg menjual baso tusuk. Aku segera menghampiri nya.

 

Ahjussi aku pesan baso tusuk 2 ya.” Ahjussi itu memberi ku 2 tusuk dan aku segera melahapnya habis tanpa sisa.

Ahjussi tolong 2 lagi.” Mengapa ini enak sekali ku makan? Mungkin kah calon bayiku menyukainya? Aku telah menghabiskan 4 batang baso tusuk.

Ahjussi aku pesan 5 batang baso tusuk ya. Aku ingin bawa pulang.” Aku merogoh saku ku tuk mengambil uang. Ahjussi itu memberikan ku kantong kresek yg berisikan baso tusuk. Lalu, aku memberinya uang dan pamit pulang.

~.~.~

 

@ apartement

 

Setelah mandi, aku duduk di sofa dan menikmati baso tusuk yg dan susu sambil menonton tivi. Tidak ada siaran yg bagus pagi ini, aku terus mengganti channel yg ada. Dan aku terpaku melihat satu siaran di salah satu channel swasta.

 

HOT NEWS!

GDragon tertangkap basah berciuman dengan seorang wanita yg tidak di kenal.

 

Aku terus membaca artikel itu, air mataku tak bisa ku bendung hingga mengalir begitu saja. Baso tusuk dan susu yg ada dihadapan ku seketika aku tidak nafsu tuk memakannya walaupun perutku memberontak kelaparan.

 

Oppa..” Aku menundukkan kepala ku karena tak sanggup melihat yg barusan terjadi.

 

Setelah merasa tenang, aku menegakkan badan ku. Dan perutku terus berbunyi karena lapar. Terpaksa aku memakan baso tusuk dan meminum habis susu dihadapanku.

 

“Huweeek..” Aku berlari menuju washtafel.

“Huweeek..” Ku muntahkan semua isi perutku, baso tusuk dan susu yg ku makan.

“Huwweeeeek..”

“Huweeeek..”

Setelah itu, aku membersihkan mulutku dan berjalan ke dapur tuk mengambil air hangat.

 

Ting toong..

Aku berlari kecil ke arah pintu lalu membuka nya. Disana ada tukang pos yg ingin mengirimkan paket.

 

“Jung –ssi?” Tanya nya

Ne..”

“Ini ada paket untuk anda dan tolong tanda tangan disini.” Ia menunjukkan ku harus tanda tangan dimana. Lalu, ia memberi ku paket yg di bungkus dengan pita warna kesukaanku yaitu biru.

“Terima kasih.” Ucap ku dan tukang pos itu hanya tersenyum. Aku menutup kembali pintu apartement ku. Aku kembali melangkah ke ruang tengah dan membuka isi paket itu.

 

To : Jung

 

Aku tidak tahu calon bayi mu itu perempuan atau laki-laki. Tapi yg ku harapkan adalah kau dan calon bayi mu bisa selamat dan hidup bersamaku selamanya.

 

Aku sedikit terharu dengan kata-kata nya. Karena penasaran dengan isinya, aku membuka paket itu. Dan ternyata..

Sepasang sepatu mungil berwarna biru. Sangat lucu ku rasa, tapi aku juga penasaran siapa yg mengirim kan paket ini. Ji Yong oppa? Tidak mungkin. Namja itu? Ah tidak mungkin karena aku saja baru mengenalnya. Ji Sun eonni? Mana mungkin ia membelikan ku sepatu ini mengingat umur kandunganku baru memasuki 2 bulan.

 

Aku meletakkan sepasang sepatu itu di meja belajar ku dan aku bersiap-siap tidur karena hari menjelang larut malam.

^.^.^

 

Pagi ini seperti biasa aku akan pergi ke taman tuk jogging. Aku terlalu bersemangat karena ingin cepat-cepat bertemu dia. Ah iya namanya siapa ya? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Paboo!

 

@ park

Setelah berlari kecil aku duduk di tempat yg kemarin ku duduk, berharap bisa bertemu dia? Ya memang aku mengharapkan nya. Entah aku ingin menceritakan keluh kesal ku saat ini. Aku menunggu nya dan terus melirik sekelilingku.

 

Aku melihat jam tangan ku, ini sudah 2 jam aku menunggu nya disini namun ia tidak ada. Ia sudah berjanji akan bertemu dengan ku lagi hari ini tapi.. Batang hidung nya pun tidak terlihat hari ini. Aku mencoba tuk menunggu nya lagi, aku yakin pasti dia akan datang.

 

 

Pagi telah berganti dengan siang hari namun hasilnya tetap sama, ia tidak datang ke taman padahal ia sudah berjanji akan datang. Dengan rasa malas, aku beranjak dari duduk ku dan berjalan menuju apartement ku.

 

 

Hingga keesokan harinya dan terus berlanjut hingga seminggu kemudian, batang hidung namja itu tidak muncul.

 

^.^.^

 

Ini sudah hari ke 8 aku menunggu nya tidak hanya ditaman, aku berjalan-jalan ke sekeliling daerah ku namun hasilnya tetap nihil.

Akhirnya, aku memutuskan tuk berhenti menunggu nya dan pergi ke supermarket karena persediaan susu ku sudah habis.

 

@ supermarket

 

Aku mengambil satu keranjang lalu ku rangkulkan di lengan ku. Lalu, aku berjalan menuju rak susu dan mengambil beberapa buah susu bubuk.

 

Jweisonghamnida..”

 

 

—-to be continue—-

 

 

Advertisements

2 thoughts on “A Thousand Years (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s